Hukum & KriminalMedanPolisi todong pistolPropam

Pistol Terduga Ditarik di Tempat Pangkas, Dua Polisi Ditahan oleh Paminal

Dalam insiden yang menghebohkan publik, dua oknum polisi terlibat dalam aksi penodongan pistol di sebuah tempat pangkas, yang berujung pada penahanan mereka. Peristiwa ini menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat, terutama terkait integritas aparat penegak hukum.

Detail Kejadian

Pada hari Kamis, 16 April 2026, informasi yang diperoleh dari Polda Sumut dan Polrestabes Medan mengungkap bahwa kedua polisi yang terlibat bertugas di satuan yang berbeda. Kejadian ini terjadi setelah adanya laporan dari masyarakat yang merasa terancam oleh tindakan oknum tersebut.

Bidang Propam Polda Sumut, bersama Propam Polrestabes Medan, segera mengambil tindakan dengan melakukan penahanan terhadap kedua oknum tersebut. Saat ini, mereka menjalani pemeriksaan khusus di lokasi yang terpisah untuk memastikan fakta-fakta yang ada.

Reaksi Resmi

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Dr. Ferry Walintukan, saat dihubungi melalui WhatsApp, menyatakan, “Saya cek dulu ya, nanti saya telepon kembali.” Namun, Kombes Ferry belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai inisial atau identitas kedua anggota Polri yang terlibat dalam insiden ini.

Viralnya Insiden di Media Sosial

Peristiwa penodongan pistol ini menjadi viral di media sosial, terutama di Instagram, ketika sekelompok orang yang mengaku sebagai polisi terlihat melakukan intimidasi dan penganiayaan terhadap seorang karyawan di tempat pangkas tersebut. Hal ini menarik perhatian masyarakat luas dan memicu berbagai komentar.

Salah satu korban, Viky Ndruru, berbagi pengalamannya mengenai peristiwa penodongan pistol yang dialaminya di tempat kerjanya. Kejadian tersebut berlangsung pada Senin, 6 April 2026, sekitar pukul 02.06 WIB, di lokasi tukang pangkas KJR 99 yang terletak di Jalan Mustafa, Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

Kronologi Kejadian

Menurut keterangan Viky, pada saat itu ia dan temannya baru saja pulang dari rumah kerabat di Helvetia. Ketika mereka tiba di simpang lampu merah Glugur Darat, mereka diikuti oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai polisi dan mengendarai tiga sepeda motor. Para oknum tersebut berusaha menghentikan kendaraan mereka.

Dalam keadaan gelap dan panik, Viky menambah kecepatan kendaraannya. “Ada yang memanggil dan memaki kami, lalu teman saya bertanya siapa itu. Dia pun menyarankan untuk melanjutkan perjalanan,” jelas Viky.

Pengejaran dan Intimidasi

Tepat di Jalan Alfalah Raya, keempat oknum polisi tersebut terus mengejar dan memaksa Viky untuk berhenti. Dua dari mereka bahkan mengeluarkan senjata api jenis pistol dari kantong celana mereka. Meskipun dalam bahaya, Viky dan temannya berusaha melarikan diri menuju tempat pangkas.

Setelah sampai di lokasi, terjadi adu mulut antara mereka dan para oknum polisi tersebut. Viky meminta untuk melihat kartu identitas sebagai anggota polisi, tetapi mereka tidak menunjukkan identitas dan justru terus memaki serta memukuli temannya.

Aksi Penganiayaan yang Terjadi

Di tengah ketegangan tersebut, salah satu oknum polisi berusaha masuk ke dalam tempat pangkas dengan menodongkan pistol ke arah kepala teman Viky. Tindakan ini semakin memperburuk situasi dan menyebabkan ketakutan di dalam tempat tersebut. Mereka tidak hanya menodongkan senjata, tetapi juga melakukan penganiayaan yang mengakibatkan teman Viky mengalami luka-luka.

Viky, yang merasa terancam dengan situasi tersebut, kemudian menyatakan bahwa aksi penodongan dan penganiayaan tersebut terekam jelas oleh kamera Closed-Circuit Television (CCTV) yang ada di lokasi.

Reaksi Setelah Kejadian

Setelah mendengar pernyataan Viky, para oknum polisi itu menjadi panik dan segera menyembunyikan senjata mereka sebelum melarikan diri dari tempat kejadian. Keberanian Viky untuk melaporkan insiden ini sangat penting, dan ia pun langsung menuju Mapolda Sumut untuk membuat laporan resmi tentang penganiayaan yang dialaminya.

Pentingnya Tindakan Tegas

Kasus ini menyoroti pentingnya tindakan tegas terhadap oknum yang menyalahgunakan wewenang mereka. Masyarakat berhak merasa aman dan dilindungi, dan tindakan sebaliknya justru merugikan citra kepolisian sebagai institusi penegak hukum.

Pihak berwenang diharapkan dapat memberikan sanksi yang tegas kepada kedua oknum polisi tersebut, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Hal ini juga menjadi pengingat bagi semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban.

  • Penegakan hukum yang adil dan transparan.
  • Pentingnya pelatihan etika bagi anggota kepolisian.
  • Peran masyarakat dalam melaporkan tindakan penyalahgunaan kewenangan.
  • Pengawasan yang ketat terhadap anggota kepolisian.
  • Pembangunan kepercayaan antara masyarakat dan aparat penegak hukum.

Insiden ini tidak hanya menjadi sorotan karena aksi penodongan pistol yang dilakukan oleh oknum polisi, tetapi juga menegaskan perlunya reformasi dalam sistem kepolisian. Masyarakat berharap agar aparat penegak hukum dapat berfungsi dengan baik dan tidak terlibat dalam tindakan yang merugikan orang lain.

Kesimpulan

Peristiwa penodongan pistol oleh oknum polisi di tempat pangkas ini menunjukkan bahwa masalah penyalahgunaan wewenang masih menjadi tantangan besar dalam penegakan hukum di Indonesia. Dengan adanya laporan dan tindakan tegas dari pihak berwenang, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian dapat pulih dan meningkat.

Kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat. Upaya bersama antara aparat penegak hukum dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

Back to top button